puJTGcKfy_fxeKRAbrODRSPkJIoFtrp5j-15hekdwtA

Pencarian

Memuat...

Senin, 31 Mei 2010

PROGRAM PELAYANAN KESPRO

Setiap manusia, dalam hidupnya mengalami beberapa tahap¬an perkembangan. Tahap yang dilalui dalam perkembangan se¬tiap kehidupan manusia, meliputi :
a.Tahap anak dalam kandungan, kemudian lahir.
b.Tahap anak
c.Tahap dewasa muda
d.Tahap dewasa tua
e.Tahap tua, untuk kemudian meninggal.

Dalam rangka mempertahankan jenisnya di dunia ini, semua makhluk hidup memiliki sistem perbanyakan jenis atau sistem berkembang biak yang disebut pula sistem reproduksi. Perkataan reproduksi di sini diartikan sebagai produksi keturunan.
Dikenal dua macam cara reproduksi, yaitu reproduksi seksual dan reproduksi aseksual. Pada reproduksi seksual, keturunan bare lahir setelah suatu proses yang melibatkan sel kelamin. Suatu reproduksi seksual dapat bersifat biseksual, bila keturunan tersebut terjadi akibat penyatuan 2 jenis sel kelamin, yaitu sel kelamin jantan dan sel kelamin betina. Reproduksi seksual dapat juga bersifat uniseksual atau disebut partenogenesis, bila munculnya makhluk baru ter adi dengan hanya melibatkan satu jenis sel kelamin saja misalnya sebagai wujud pengembangan sel telur yang tidak dibuahi. Pada reproduksi aseksual, perkembangbiakan ter adi tanpa melibatkan sel kelamin, misalnya melalui pembelahan diri atau penumbuhan tunas baru.

Pada manusia terjadi reproduksi biseksual. Proses reproduksi ini mulai dengan bertemunya sel mani dari pria dengan sel telur dari wanita, sehingga wanita tersebut menjadi hamil untuk kemudian manusia baru. Sejak dahulu kala, manusia telah berusaha untuk mengendalikan fungsi reproduksinya dengan berbagai cara. Pengetahuan tentang anatomi dan fisiologi tubuh manusia, khususnya tentang sistem reproduksi manusia, amat memacu perkembangan upaya pengendalian kelahiran, yang menjadi upaya pendukung utama dalam keluarga berencana.
Pembicaraan tentang sistem dan alat reproduksi pria dan wanita kadangkala dianggap tabu, akan tetapi dalam pelaksanaan tentang ini perlu disebarluaskan kepada masyarakat melalui para petugas secara bertanggung jawab, guna memperlancar upaya perencanaan kelahiran dalam keluarga, menuju Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera. Di bawah ini diurai¬kan anatomi dan fisiologi sistem reproduksi manusia, faktor yang berpengaruh serta reproduksi sehat manusia.

Anatomi dan Fisiologi Sistem Reproduksi Manusia.
Anatomi adalah ilmu yang mempelajari susunan bagian tu¬buh dan menguraikannya satu persatu. Fisiologi adalah ilmu yang mempelajari kerja atau faal/fungsi bagian atau alat tu¬buh. Sesuai dengan sistem reproduksi manusia yang bersifat biseksual, di bawah ini akan diuraikan anatomi dan fisiologi sistem reproduksi pria dan sistem reproduksi wanita.
a.Sistem Reproduksi Pria.
Sistem reproduksi pria adalah sistem yang menghasil¬kan sel kelamin untuk proses reproduksi manusia. Sel ke¬lamin pria tersebut dinamakan sel mani atau sperma. Sper¬ma diciptakan oleh sepasang buah zakar atau testis. Sperma keluar melalui sepasang pembuluh yang bernama saluran sperma atau vas deferens, yang kemudian berhubungan dengan pembuluh yang menyalurkan air mani (semen). Air mani dihasilkan oleh kantong semen (vesicula seminalis). Ketika sperma sampai pada saluran kencing (urethra), ia sudah bercampur dengan air mani dan produk 2 jenis kelenjar, yaitu kelenjar prostat dan kelenjar bulbo¬urethralis.
Setiap kali senggama, pria mengeluarkan kira-kira satu sendok teh air mani yang didalamnya mengandung 200 - 500 juta sperma. Dengan demikian setetes air mani sudah mengandung ribuan sperma. Panjang sperma kira-kira 1/20 mm. Geraknya lincah dan dapat menempuh jarak 2-4 mm per menit. Setelah disemprotkan dalam liang kemaluan wanita waktu senggama, sperma dapat hidup sekitar 8 jam dalam liang kemaluan itu, namun di dalam rahim dapat hidup lebih lama, sekitar 2-3 hari.
Buah zakar, kecuali menghasilkan sperma, juga meng¬hasilkan hormon. Hormon tersebut disebut hormon kejan¬tanan atau testosteron, yang memberikan tanda kelaki¬-lakian pada pria, seperti suara yang besar, bahu yang lebar, pinggul kecil, kumis dan jenggot serta rambut lain yang khas bagi pria.

b.Sistem Reproduksi Wanita.
Alat reproduksi wanita terdiri atas 4 bagian (lihat gambar), yaitu :
Liang kemaluan atau Jiang sanggama (vagina) Rahim atau kandungan (uterus)
Sepasang saluran telur (tuba fallopii)
Sepasang indung telur (ovarium).
Sel telur (ovum) terbentuk dalam indung telur. Dalam kedua indung telur seorang wanita terdapat ribuan sel telur yang belum masak, jumlahnya antara 30.000 — 40.000 buah. Sejak ia lahir, sel telur telah ada di situ. Tiap sel telur telah berada dalam bungkusan sel yang bernama folikel. Sejak se¬orang wanita mencapai pubertas, folikel dan sel telur yang ada didalamnya mempunyai suatu fungsi baru, demikian juga alat kelaminnya.
Telur yang tersimpan dalam indung telur itu masak satu dalam sebulan, dari indung telur yang satu atau yang lain. Dengan perkataan lain, diantara 2 haid atau datang bulan, seorang wanita mengeluarkan sebuah sel telur dari indung telurnya. Sel telur amat kecil, hanya sebesar ujung jarum. Adakalanya seorang wanita menghasilkan lebih dari satu telur dalam sebulan, atau tidak sama sekali diantara dua haid, Namun biasanya, dihasilkan satu buah sel telur dalam siklus haid, dari indung telur yang kiri atau yang kanan.

Faktor yang Mempengaruhi Terhadap Reproduksi Manusia.
Banyak faktor yang berpengaruh terhadap reproduksi manu¬sia yang dapat dikelompokkan sebagai berikut
a.Faktor Organobiologik.
Reproduksi manusia yang bersifat biseksual, dipenga¬ruhi oleh faktor organobiologik, baik pada pria maupun pada wanita. Faktor organobiologik ini mencakup berbagai kelain¬an anatomis maupun fungsional dari pada alat tubuh ma¬nusia, terutama kelainan alat dan fungsi reproduksi, yang dapat mengakibatkan kelainan pada kualitas dan kuantitas reproduksi manusia.
Dalam kelompok faktor oganobiologik ini, termasuk :
1)Umur manusia.
Diketahui bahwa puncak kesuburan umumnya berada pada usia sekitar 24 - 25 tahun. Fungsi reproduksi menurun setelah usia itu.
2)Faktor gizi.
3)Penyakit infeksi, seperti radang kelenjar parotis pada mulut (gondongan), tuberkulosis, kencing nanah, ra¬dang prostat, kusta, cacar dan sebagainya.
4)Alergi dan gangguan imunologik.
5)Gangguan metabolisme umum, seperti kencing manis dan sebagainya.
6)Kegagalan ginjal menahun.
7)Kelumpuhan bagian bawah anggota badan (papaplegia).
8)Kelainan endoktrim pada kelenjar hipofise otak.
9)Kelainan kromosom.
10)Kelainan letak, misalnya tidak turunnya buah zakar kedalam kantong zakar.
11)Gangguan persanggamaan seperti impoten dan sebagai¬nya.
12)Pengaruh dari luar : obat, zat kimia, radiasi, suhu ling¬kungan sekitar, dan sebagainya.

b.Faktor Psikoedukatif.
Reproduksi manusia juga dipengaruhi oleh berbagai faktor yang tergolong psikoedukatif, yaitu faktor kejiwaan dan pendidikan atau pengetahuan manusia. Kesadaran akan gawatnya masalah kependudukan suatu negara, merupakan motivasi untuk upaya pentingnya memelihara kesehatan ibu dan anak Berta keluarga, membuat para pasutri memprak¬tekkan keluarga berencana. Dalam banyak hal, pendidikan kaum wanita berpengaruh positif terhadap pengendalian re¬produksinya.

c.Faktor Sosiokultural.
Faktor yang tergolong dalam kelompok sosial budaya memberi pengaruh pula terhadap reproduksi manusia. Pandangan bahwa anak laki-laki lebih berharga daripada wanita, banyak anak banyak rejeki seringkali menjadi pendorong pemacuan terhadap fungsi reproduksi, bahkan seringkali dengan melupakan akibat buruk terhadap kesehatan ibu dan anak.
Rendahnya status kaum wanita dalam budaya sesuatu bangsa serta peranan wanita yang terbatas pada pengelolaan rumah tangga saja, seringkali mengakibatkan pengaruh ne¬gatif pada reproduksi manusia.
Pengertian akan pengaruh faktor tersebut, biasanya men¬jadi pengalaman bagi kegiatan dalam program keluarga be¬rencana. Dalam penanggulangi kemandulan misalnya, digu¬nakan pendekatan pasutri, mengingat 40% penyebabnya terletak pada pria, 40% lagi bagi wanita dan 20% sisanya pada kedua pihak bersama-sama.
Dalam program keluarga berencana nasional di Indone¬sia, dikenal beberapa pendekatan untuk mengatasi kecepat¬an pertumbuhan penduduk, yang bila dipandang dari sudut penanganan reproduksi manusia, dapat dinyatakan sebagai berikut :
a.Pendekatan keluarga berencana, dengan :
Pelayanan kontrasepsi yang terutama untuk menga¬tasi penyebab yang tergolong dalam faktor ogano¬biologik.
KIE, yang terutama untuk mengatasi penyebab da¬lam kelompok faktor psikoedukatif.

b.Pendekatan yang mendukung keluarga berencana (be¬yond family planning), yang umumnya tergolong dalam upaya penanganan faktor sosiokultural dari pada repro¬duksi manusia. Jelaslah bahwa, pengetahuan dan pe¬ngertian tentang reproduksi manusia perlu disebar¬luaskan, tidak saja kepada para petugas, namun perlu diteruskan kepada masyarakat sesuai dengan tingkat pen¬didikan sasaran, agar semakin meningkatkan kemampuan masyarakat sendiri untuk turut mengatasi masalah kesehatan reproduksinya, kesehatan keluarga, keluarga berencana serta pengendalian masalah kependudukan secara nasional.

Pola Reproduksi Sehat Manusia.
Penelaahan terhadap anatomi dan fisiologi sistem reproduksi manusia, memberi pengertian bahwa reproduksi terjadi akibat penyatuan sel telur seorang wanita dengan sel mani seorang pria. Diketahui pula, bahwa seorang wanita hanya mengeluarkan sel telur selama ia berada dalam masa reproduksi yang biasanya berlangsung terhadap faktor yang mempengaruhi reproduksi manusia, memberi pengertian bahwa proses reproduksi perlu diatur dengan cara mengatur atau mengendalikan faktor yang berpengaruh, baik faktor yang tergolong dalam kelompok orga¬nobiologik, psikoedukatif maupun sosiokultural. Pola repro¬duksi sehat manusia adalah pola reproduksi keturunan yang tidak menimbulkan gangguan kesehatan jasmani, rohani dan sosial, baik mencapai pola reproduksi yang sehat, harus dipenuhi be¬berapa persyaratan sebagai berikut :
-Reproduksi terjadi pada masa reproduksi sehat pasangan suami istri yang bersangkutan.
-Reproduksi terjadi karena memang diinginkan oleh pasang¬an suami istri yang bersangkutan.

Kesimpulan
1.Reproduksi manusia bersifat bisekzual, melibatkan sistem reproduksi pada pria maupun wanita.
2.Pengetahuan mengenai anatomi dan fisiologi sistem reproduksi manusia penting sebagai dasar perenca¬naan keluarga dalam keluarga berencana.
3.Pengendalian reproduksi manusia penting dalam upa¬ya mengatasi kecepatan pertumbuhan penduduk, melalui pengendalian berbagai faktor yang berpe-ngaruh terhadap reproduksi tersebut, yakni faktor organobiologik, psikoedukatif dan sosiokultural.
4.Pola reproduksi sehat manusia merupakan landasan untuk mewujudkan norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
5.Pentingnya pengertian akan reproduksi manusia, termasuk cara-cara kontrasepsi dan pemilihan/pemakaian, kontrasepsi yang rasional, dalam pelaksanaan program keluarga berencana nasional, menuntut disebarluaskan materi tentang reproduksi manusia dalam pendidikan keluarga berencana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar